Perasaan menyukai seseorang itu memang sulit untuk disembunyikan tapi kamu juga harus punya wawasan tentang cinta, wujud dari cinta itu sendiri, dan dampak dari cinta bila tidak terpenuhi dengan benar. Jangan buru-buru mengungkapkan cinta. Pelajari terlebih dahulu sedetail-detailnya tentang cinta. Apalagi kalau kamu sampai tahu tentang sejatinya cinta. Salut deh buat kamu.
Bro en Sis, cinta itu anugerah. Dateng gitu aja, tiba-tiba muncul tanpa diundang (dah kayak jalangkung!). Nggak peduli tua atau muda, cantik atau jelek, ganteng atau tampan (loh? Curang nih cow) love doesn't know difference deh. Kalo kamu udah suka sama lawan jenis, bisa lupa segalanya, mulai dari ngelamun, ketawa sendiri (cinta gila kali ya?) sampe rela ngelakuin apa aja demi sang pujaan hati. Gak sedikit dari remaja muslim yang memahami bahwa cinta itu harus diekspresikan dengan pacaran.
Mencintai Dengan Pacaran
Pacaran udah dijadiin simbol pergaulan modern. Kamu baru dianggap dewasa en gaul kalo udah punya doi. Kalau belum punya, siap-siap aja dinobatkan jadi pejabat, alias pemuda jaman batu. Dan itu bisa bikin kamu manyun en berjuang dengan semangat buat ngegaet sang buah hati, meski harus ngorbanin pulsa ama uang jajan. Sekaligus biar nggak disebut jomblo!Sobat muda muslim, banyak teman remaja yang pacaran beralasan bahwa dia butuh seseorang yang bisa ngertiin dan merhatiin dirinya. Pokoknya, yang lebih dari sekadar temen, bisa mompa semangat bak cheerleader waktu kamu lagi putus asa, bisa jadi tempat berbagi rasa dan masalah, atau paling jauh buat ajang seleksi pasangan hidup. Tiap remaja membutuhkan orang dekat yang bisa mengingatkan dan membimbing tanpa harus menggurui. Dan biasanya teman sebaya atau lawan jenis berada di urutan pertama (emangnya klasemen) sebelum orangtua atawa guru.
Alasan-alasan temen kamu itu cuma pembenaran aja, biar aktivitas pacarannya dilegalisasi sekolah, dibolehin keluarga dan lingkungan.
Sobat, setan paling doyan nongkrongin orang yang lagi pacaran alias mojok, lho. Temen kamu boleh bilang pacaran itu manis, tapi sebenarnya itu jalan iblis! Ada juga yang bilang: “Itu kan tergantung orangnya?”. Bisa jadi. Tapi nggak selalu. Sekuat-kuatnya iman, tetep akan ambrol juga. Karena rasa cinta plus kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian akan selalu menghinggapi manusia selagi masih hidup. Seperti halnya hawa nafsu. Ketika berpacaran, batas antara cinta dan nafsu itu jadi bias, alias nggak jelas.
Nggak ada yang ngejamin kamu atau pacar kamu bisa jaga diri alias tahan godaan ketika lagi asyik berduaan. Awalnya mungkin cuma nonton bareng, makan bareng, pegangan tangan, berpelukan kayak teletubies, sampe teler abis. Udah gitu, wallahu'alam. En, kalo kamu udah lengket ama doi, kamu akan ngerasa berat banget untuk menolak “aksi gerilya” tangan pacar kamu yang bisa berujung kamu nggak gadis lagi. Ih, syerem..! Jangan sampe deh.
Pacaran Menurut Islam
Eh, ada yang protes nggak kalo masalah pacaran dikaitkan dengan Islam? Biasanya kalo protes itu mikirnya gini: “Yang penting kan ibadahnya? Ngapain kudu disangkut-pautkan dengan Islam. Pacaran aja selama itu nggak ganggu orang lain dan nggak sampe berzina”. Hmm…Bro, Islam udah ngasih aturan yang jelas, harusnya kita bisa menerima Islam dengan sepenuhnya, bukan cuma sebatas ritualnya aja atau dijadikan formalitas aja. Aturannya menyangkut semua hal, mulai dari aturan negara sampai aturan untuk individu. Jangan sampe di antara kamu ada yang rajin ngaji, sholat juga nggak ketinggalan, tapi maksiat tetep jalan. Hadduch.. STMJ tuh mah (Sholat Terus Maksiat Jalan). Sholat sih sholat, tapi soal maming alias Malam Mingguan kamu ngerasa wajib untuk hadir ke rumah pacar kamu. Niat ngapel sambil pamit sama ortu si pacar, mau ngajak jalan-jalan cari udara segar (cari aja oksigen di rumah sakit, lagi bengek kali tuh!). Intinya supaya bisa berdua aja.
Oya, ada juga tuh temen kita yang beralibi alais ngasih alasan bahwa pacaran yang mereka lakukan itu islami. Hanya karena si perempuan menggunakan kerudung, kemudian sering sholat bareng, ke pengajian bareng, selalu mengucap Assalamu'alaikum diawal sms-an atau bertemu membuat mereka pede menyatakan bahwa “pacaran kami Islami”. Pas ditanya, apa dalilnya pacaran islami? Pada “ngahuleng” alias gak bisa jawab.
Bro en Sis, Allah سبحانه و تعالى udah berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (TQS. al-Isra [17]: 32)Pacaran selalu identik dengan berduaan bersama lawan jenis. Istilahnya berkhalwat dengan yang bukan mahramnya. Saat berdua-duaan inilah kamu berkesempatan terjerumus ke dalam kemaksiatan bahkan lebih parahnya berzina. “Ingat, Kemaksiatan bukan hanya karena ada niat si pelaku, tapi juga karena ada kesempatan” (plesetan dari omongannya bang Napi jaman dulu). Bener banget tuh! Pas berdua-duaan kalo udah terpancing sama hawa nafsu setan, gampang banget kegodanya buat ngelakuin macem-macem, istilahnya tinggal tunggu jam tayang (dah kayak nonton bioskop aja).
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR. Ahmad)Waduh, emang kamu mau jadi temannya setan? Hiii, naudzubillah banget!
Bro, sebelum sampe berdua-duaan dengan lawan jenis, di awal-awal hubungan dengan lawan jenis udah diatur dengan baik lho dalam Islam. Supaya kejadian maksiat itu bisa dicegah karena peluangnya diminimalisir.
Allah سبحانه و تعالى berfirman (yang artinya):
“Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: 'Hendaklah mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya ….' Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin perempuan: 'Hendaknya mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya…'.” (TQS. an-Nuur [24]: 30–31)So, menundukkan pandangan adalah menjaga pandangan. Nggak dilepas gitu aja tanpa kendali yang memungkinkan bakal merasakan kelezatan atas birahinya kepada lawan jenisnya yang beraksi. Pandangan bisa dibilang terpelihara jika secara tidak sengaja melihat lawan jenis kemudian menahan untuk tidak berusaha melihat mengulangi melihat lagi atau mengamat-amati kecantikannya atau kegantengannya. Rasulullah صلى الله عليه و سلم pernah berkata kepada Sahabat Ali:
“Wahai Ali, jangan kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)Dalam hadits yang lain. Rasulullah صلى الله عليه و سلم telah bersabda:
“Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.” (HR. Bukhari Muslim dari Ibn Abbas ra. dan Abu Hurairah ra.)Zina dimulai dari yang terendah yaitu zina hati dengan bernikmat-nikmat karena getaran jiwa yang dekat dengannya. Kemudian zina mata dengan merasakan sedap memandangnya. Hingga berikutnya lebih mudah untuk terjerumus ke zina badan dengan, saling bersentuhan, berpegangan, berpelukan, berciuman, dan seterusnya hingga terjadilah persetubuhan. Ati-ati n Waspadalah!
Bor en Sis, dalam Islam nggak ada istilah pacaran, karena pada dasarnya aturan pergaulan dalam Islam adalah infishol alias “terpisah” dalam arti begini: cowok atau cewek hanya bergaul akrab dengan sejenisnya atau para mahram. Berhubungan dengan lawan jenis hanya masalah mu'amalah (bisnis, seperti di pasar antara penjual dan pembeli), pendidikan (seperti antara guru dengan murid atau dosen sama mahasiswanya) juga dalam masalah kesehatan (konsultasi dokter dengan pasiennya dan sejenisnya). Yang semuanya harus tetap syar'i.
Buat aktivis rohis atau siapa aja yang nganggep Islam-nya udah mantep.. jangan anggap diri kamu kuat iman, terus tetep ngeyel berdua-duaan, meski sembunyi-sembunyi. Sadarlah bro n sis, setan udah nipu kamu. Jelas, berdua-duaan itu adalah bukti lemahnya iman kamu. Kamu udah tahu bahwa hal itu salah, dan udah tau dalilnya tapi tetep kamu lakuin. Inget! ada Allah سبحانه و تعالى yang senantiasa melihatmu, dan akan ada Malaikat disampingmu yang terus mencatat semua amalmu.
Kalau cinta jangan maksiat
Sobat muda muslim, Allah mengkaruniakan naluri manusia (termasuk naluri mencintai) itu satu paket ama aturan maennya. Nggak bisa cara pemenuhan naluri itu semau gue. Karena manusia itu lemah, nggak tahu mana dan apa yang terbaik buat dirinya. Allah سبحانه و تعالى berfirman:“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai? sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu? tidak mengetahui.” (TQS. al-Baqarah [2]: 216)Termasuk dalam masalah cinta kepada lawan jenis. Allah سبحانه و تعالى udah ngasih aturan pemenuhannya melalui pernikahan seperti dicontohkan oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم Dengan begitu, manusia akan lebih mulia kedudukannya dan jelas asal-usulnya. Nggak kayak ayam yang maen sosor aja kalo lagi “pengen”.
Nah, sobat muda muslim, kalo rasa cinta itu diwujudkan dengan pacaran, berarti udah ngelanggar aturan Allah. Itu namanya maksiat. Selain dosa, kesengsaraan akan menimpa. Alih-alih sayang sama pacar, malah kamu bikin celaka. Makanya.. kalo kamu jatuh cinta jangan terus maksiat, karena akan rugi dunia akhirat!
Mengendalikan Rasa Cinta
Sobat muda muslim, sekarang kita udah tahu kalo pacaran itu nggak boleh (baca: haram). Terus kamu pasti berpikir gimana caranya bisa mengendalikan virus cinta itu. Tapi tidak untuk dihilangkan. Biar virus ini nggak bikin hati kita tergoda untuk pacaran. Mau tahu?Rasa cinta itu muncul tatkala ada rangsangan dari luar. Rangsangan itu bisa berupa film yang berkisah tentang cinta, lagu-lagu melankolis, atawa majalah remaja yang nggak bosen-bosennya ngomongin cinta. Selain itu, pergaulan juga kudu diwaspadai. Seperti kata pepatah jawa, witing trisno jalaran soko kulino. Terjemah bebasnya, rasa cinta itu tumbuh karena keseringan meeting alias ketemu. Kebayang kan kalo kita bergaul bebas, persahabatan dengan lawan jenis akan menjadi lahan subur tumbuhnya benih-benih cinta.
Itu sebabnya, kita bisa mulai upaya mengendalikan virus cinta dengan membatasi pergaulan bebas. Dalam Islam, ada aturan mainnya lho. Ketemu atawa berinteraksi cuma seperlunya aja, jika memang diperlukan. Udah gitu, jika dikhawatirkan virus itu meradang lagi, tahan diri untuk nonton film romantis, dengerin musik cinta, en segala hal yang bisa bikin virus merah jambu itu aktif.
Nggak cukup sampe situ, kita juga kudu bangun benteng pertahanan dengan ikut pengajian. Karena dengan ikut pengajian, kecintaan terhadap Allah, keyakinan terhadap janji Allah, dan kebenaran aturan Allah bisa terpupuk. Dengan begitu, kita bisa istiqomah meski banyak penghalang. Jika Allah sayang kepada kita karena kita ngikutin aturan-Nya, kelak jodoh yang baik alias sholeh or sholehah akan datang menghampiri. Allah سبحانه و تعالى berfirman:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (TQS. an-Nur [24]: 26)Sobat muda muslim, bisa jadi kamu ngerasa berat bin bete kalo harus berbuat kayak gitu. Tapi berat, bukan berarti nggak bisa. Pasti bisa. Masalahnya cuma waktu dan kemauan kamu untuk dapetin ridho Allah سبحانه و تعالى. Iya nggak?
Nah.. Buat kamu atau temen kamu yang masih aktif pacaran, pintu taubat insya Allah masih terbuka. Jangan sampe kita habiskan masa muda kita dengan menabung dosa tiap harinya. Nggak ada yang tahu kapan Allah سبحانه و تعالى bakal “memecat” kita dari dunia ini ketika ajal menjemput. Sobat, mari kita kuatkan tekad untuk nggak pacaran. Jangan lupa, ikut pengajian! Oke? [STUDIA, Gaul Islam, Sobat Muda, edited by rev24]
thanks for: http://7cgen.blogspot.com/2010/05/edisi-5-kalau-cinta-jangan-maksiat.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar